Langsung ke konten utama

Postingan

Jurnal bunda : Jangan Ngiri, Nganan Aja

Guru menulis saya pernah bilang, kalau setiap orang itu punya kelebihan masing-masing, punya potensi, punya keahlian. Allah menciptakan manusia dengan kelebihannya. Di Al Qur'an dijelaskan, tapi aku lupa surat berapa 😁 Makanya kita harus mampu mengenali potensi yang kita miliki itu, dan jadikan keahlian itu sebagai sarana untuk meraih pahala Allah. Lakukan semuanya untuk Allah, jangan lakukan untuk uang atau hanya sekedar untuk pengakuan dari manusia. Yang pinter masak, cari pahala lewat masak.  Sesekali bagi resep masakan, ditiru sama orang untuk membahagiakan orang yang disayangi. Jadi pahala. Yang pinter nulis, cari pahala lewat nulis, dsb. Jika kita sudah paham potensi kita di mana, maka kita nggak mudah ngiri sama orang lain. Ngapain harus ngiri, wong tiap orang punya kelebihan termasuk diri sendiri. Saya nggak ngiri sama ibu-ibu pinter masak atau pinter bikin kue, karena saya sadar potensiku tidak di situ. Lima belas tahun menikah, belum pernah berhasil bikin kue yang nggak ...

#Jurnal Bunda: Pelit Pada Diri Sendiri

Hari minggu, ngobrol sama suami sambil dengerin ceramahnya Ustadz Khalid basalamah. Dalam ceramahnya  tersebut, beliau mengatakan bahwa, Islam tidak melarang untuk berpakaian bagus, tidak melarang berpenampilan menarik. Kita diperbolehlan untuk menikmati dunia ini. Menggunakan pakaian yang bagus dan layak. Ke masjid pakai baju mahal, di rumah pakai mukenah yang bagus. Islam tidak melarang itu semua.  Apalagi jika dipakai untuk tujuan beribadah. Umroh pilihlah hotel yang bagus, pesawat yang nyaman. Karena itu untuk kenyamanan ibadah kita.  Jangan bakhil ( pelit) sama diri sendiri Asal tidak berlebih-lebihan dan bukan uang hasil yang haram maka itu semua diperbolehkan. Dengar kajian itu aku senyum-senyum sendiri. Merasa tersindir? iya mungkin. Hahaha.  Tapi apa yang Ustadz Khalid katakan itu benar. Bahwa Islam tidak melarang kita untuk menikmati dunia tanpa berlebihan. Tapi juga tidak pelit. Nikmati secukupnya. Sesekali beli baju mahal boleh kali, ya. Atau tas mahal se...

Naik Taksi di Mexico

Akhirnya kami naik taksi juga di Mexico. Biasanya ada Uber yang menjemput. Tapi entah kenapa, kali ini justru taksi yang datang ke rumah kami. Di Indonesia kami hampir nggak pernah naik taksi. Naik Ojek online pun jarang.  Awal sampe sini, tiap liat taksi pasti senyum-senyum sendiri. Gimana ya, rasanya naik taksi di sini? Bentuk mobilnya unik. Kotak. Berwarna merah. Sering ngebut di jalanan. Ada taksi warna putih juga. Tapi biasanya jarang terlihat. Berbeda dengan Uber, sebelum saya naik, sopir taksi sigap menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh jok. Jok depan, jok belakang, dashboard, pegangan pintu. Nggak ketinggalan juga masker sang sopir. Kalau naik Uber, kadang malah sopir Uber nya lupa nggak pake masker. Jendela mobil tertutup rapat. Sopir taksinya ngajakin saya ngobrol pake bahasa spanyol, yang mana saya bingung setengah mati menanggapinya. Karena nggak mudeng blas apa yang dia katakan. Kosakatanya asing. Wkwkwk Yang nyantol cuma pertanyaan, "Apakah kamu bicara bahasa I...

#catatanpandemi: Jeda

Sudah dua mingguan ini rasanya luar biasa. Nahan air mata jatuh, kecewa, marah, tapi bingung kenapa. Hampir tiap hari ada berita kematian, saudara sakit, tetangga sakit, semuanya berasa muram. Selama ini, hampir nggak pernah bisa curhat ke orang lain. Cuma sama suami. Itupun sekarang suami udah nggak bisa lagi diajak cerita. Nggak kayak biasanya yang bisa berdua doang di kamar. Bebas cerita apa saja. Sekarang cerita nggak bisa sebebas dulu. Pasti di sebelah ada temennya. Saya seperti nggak punya ruang pribadi. Nggak bisa melepaskan semua sesak di hati. Dalam kondisi seperti saat ini, sungguh rasanya seperti orang gila. Ketemu orang nggak bisa sebebas dulu, mau cerita ke temen pada sakit. Setiap hari, cuma bisa minta belas kasihan dari Allah... "Yaa Allah...di dunia ini rasanya aku cuma sendiri. Kasihani aku...nggak punya siapa-siapa. Siapa lagi yang bisa menolong selain Engkau. Siapa lagi yang mau mendengar kalau bukan Engkau" Kalau udah gitu, langsung mewek. Rasanya bener-be...

Kisah Si Kucing Yatim

Tok...tok...tok...buuuuk...minta makan.. Kami menamakan kucing ini kucing yatim. Karena dia nggak tau asal usulnya darimana. Tau-tau di depan rumah sendirian.  Kemarin waktu baru dateng, badannya kecil banget, matanya belekan, bulunya semrawut. Tiap dideketin selalu ketakutan, trus lari ke rumah kosong dekat rumah. Dia sendirian. Tiap malem kedengeran dia nangis. Meong meong...mungkin nyariin induknya. Karena kayaknya dia masih nyusu. Buat orang lain, mungkin nggak ngeh. Atau malah bahkan nggak denger suara kucing nangis. Tapi buat kami, suara meong nya menyayat hati. Tiap kucing-kucing di rumah makan, si Anak yatim ini selalu ngelihatin di pojokan pagar. Diminta mendekat nggak mau, dideketin lari. Kalau lari sampai kepleset-pleset saking paniknya. Tapi tiap kami bubar, kucing-kucing sudah selesai makan dan kami masuk, dia datang mengendus-endus bekas makanannya. Dari jendela, kami sering mengintip dia makan sisa-sisa makanan kucing di rumah. Akhirnya, anak-anak punya inisiatif bua...

Kisah Sepasang Sandal Jepit

Gambar: www.cepatparamex.com Karena saking lamanya kami lockdown, Saya baru tau kalau ternyata sandal Shabira Udah nggak muat sama sekali. Mana itu sandal satu-satunya. Tau-tau udah nggak bisa kepake gitu aja. Pas mau keluar, bingung sandalnya kesempitan semua. Makanya, kami pun meniatkan diri untuk beli sandal baru buat dia. Siap-siap lah kami nge-mall buat sandal baru. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya ngecek in satu-satu sepatu mereka. Daaaan...ternyata Shabira pake sandal jepit butut yang sering dia tinggal di sekolahan buat wudhu. Alhasil, saya langsung panik.  "Lha kok bisa pergi nge mall pake sandal jepit?" Kataku. "Lha kan kita mau beli sandal baru..." Kata Shabira enteng saja. Gak ada wajah sedih, malu atau gimana. "Tapi kan, malu kalau dilihatin orang. Masa semua pake sepatu, kamu sendiri yang pake sendal jepit?" Mendengar ucapanku, tiba-tiba wajahnya berubah kalut, cemberut, ikutan panik. Rasa percaya dirinya langsung memudar. Saya terdiam. M...

Gigi Sudah Dicabut Tapi Masih Sakit

Gak punya foto dokter giginya. Adanya foto botol isi air garam buat kumur-kumur saat tindakan Selama pandemi ini, saya sering banget sakit gigi. Bentar-bentar sakit gigi, bentar-bentar ke dokter gigi. Padahal, ke dokter gigi dalam situasi seperti ini horor banget. apalagi kalau tempat dokter gigi langganan kena zona merah. Mau ke rumah sakit juga tambah takut. Masalah gigi ini sebenernya sudah lama banget. Tapi baru sekarang-sekarang ini aja bener parahnya. Disebabkan gigi geraham belakang bolong, trus lubangnya semakin lebar nggak karuan.  Sering sekali saya minta cabut aja sama dokter gigi. Tapi dokter gigi yang saya datangi seringnya menolak. Alasannya, tensi saya 130/90. Jadi kalau mau cabut gigi harus ke rumah sakit dulu, ke dokter penyakit dalam untuk cek segala sesuatunya sekaligus menurunkan tensi. Ujung-ujungnya ya ke rumah sakit dulu. Berhubung saya masih belum berani ke rumah sakit. Apalagi harus periksa gigi, harus cek ini itu, akhirnya acara cabut gigi batal terus. Daa...