Langsung ke konten utama

Postingan

Aguascalientes dari atas picacho Hari ini, aku buka-buka lagi foto lama. Trus nemu beberapa foto lama saat kami naik ke puncak Picachu, Aguascalientes. Seingatku, itu perjalanan hiking pertama kali di sini.  Sebelumnya, kami nggak berani. Karena kalau dilihat dari jauh, rasanya jauh banget. Dan tentu saja udaranya begitu panas dan kering. Tapi karena penasaran akhirnya kami mencoba pergi ke sana. Kami pergi ke sana tepat di tanggal 1 Januari 2022. Berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang. Berangkat udah mulai panas banget. Dekat sih, dari rumah. Tapi tetap aja, kalau siang panasnya nyengat banget.  Sampai di sana, suasananya sepi banget. Orang-orang udah pada turun. Banyak juga yang udah mulai nongkrong di warung-warung di bawah. Saat itu, kami deg-degan banget karena baru pertama kali naik gunung. Kanan kiri rumput-rumput kering, yang konon katanya banyak ular deriknya.  Tapi waktu itu kami belum tahu, jadi kami ikut salah satu orang jalan melewati rumput-rumput itu alias jalan pin
Postingan terbaru

Mengharap Balasan Terima Kasih

Beberapa waktu yang lalu, nggak sengaja kami ketemu teman suami di jalan. Lalu, ngobrol lah suamiku dengan temannya itu. Waktu itu suamiku ngenalin aku dan anak-anak sama temannya itu. Tapi…blas kami nggak dilihat sama sekali. Jangankan ditanya nama, diajak kenalan, dilihatin aja nggak. Jujur, baru kali ini aku ketemu orang modelan seperti itu di sini. Biasanya, orang sini itu ramah-ramah. Apalagi kalau ketemu sama orang baru. Apalagi, mereka tau kami bukan orang sini, mereka biasanya antusias sekali nanya-nanya. Apalagi…suamiku kan bos nya di kantor, lah masak gitu juga sikapnya. Karena dicuekin, akhirnya aku milih untuk meninggalkan mereka ngobrol. Milih menjauh cari kesibukan lain. Dengan hati yang kecewa?  Sedikit, dan malas juga ketemu sama orang seperti itu. Pas kami pulang, kebetulan waktu itu udah mau magrib, terus cuacanya agak-agak sendu gimana gitu mau hujan. Jalan lah kami ke parkiran. Pas jalan itu, telingaku kayak dislepet suaranya Ustadz Nouman Ali khan. “Anda tahu apa i

Disapa Covid

Hari Kamis 16 Juni 2022, Shabira pulang sekolah tiba-tiba langsung masuk kamar. Pas kusamperin ternyata dia tidur. Nggak biasanya dia pulang langsung ke kamar. Biasanya nyampe rumah langsung masuk dapur. Ternyata badannya panas, trus ngeluh kakinya ngilu. Kupikir karena abis yoga kali kakinya jadi pegel2. Kupijitin, ku suapin makan tapi cuma makan dikit. Malemnya, panasnya makin tinggi. Dikasih obat nggak mempan. Semaleman sampe aku nggak tidur karena ngompres dia. Atas dikompres, bawah demam. Bawah dikompres atas demam. Gitu terus. Demam berkisar di angka 39 derajat ke atas. Karena demamnya nggak turun-turun, jadi Jum'at pagi kami bawa ke dokter. Sampai dokter dicek ternyata emang demamnya tinggi banget. Trus ada radang dan beberapa sariawan di mulut. Makanya nggak mau makan. Abis dari dokter minum obat trus lumayan turun. Sorenya udah mulai normal kembali. Tapi tetep nggak mau makan karena mulutnya penuh sariawan. Hari Sabtu malah tak tinggal pergi ke masjid karena demamnya udah

Terlambat

Waktu itu, ngobrol dengan seseorang trus dia cerita kalau orang-orang di sini itu banyak yang nggak peduli sama keterlambatan. Terlambat ke sekolah, terlambat ketemu sama orang itu udah biasa. Janjinya jam berapa, datengnya jam berapa. Lebih parah lagi, kadang bahkan mereka sering sekali membatalkan janji. Dan kadang alasannya itu sepele banget. Mungkin buat mereka penting, tapi dipikir-pikir alasan yang mereka buat itu sepele banget. Kayak misalnya, udah janji mau ikut kumpul tapi pas yang lain udah kumpul tiba-tiba dia batalin janji karena mau beres-beres rumah. Alasannya sepele dan nyebelin. wkwkwk Dan masalah terlambat ini juga sering terjadi di sekolahan. Anak-anak berangkat sekolah seenaknya nggak ada aturan jelas. Ada yang datang di jam kedua pelajaran, ada yang datang telat tiap hari.  Awal-awal sekolah di sini, kaget banget. Karena sekolah kayaknya nggak punya aturan yang ketat. Trus kalau datang terlambat gitu juga nggak ada sanksi. Kupikir karena emang sudah jadi budaya, keb

Do It Now

About three days ago, I want to add another Islamic study class for me. But, I feel unsure. I'm very busy. I have a lot to do And then, someone told me.  "Is it time for us to study successfully?" "I think not..." "So, why are you woried? If you do that for Allah, Allah surely help you" I think, what she said is true. Why wait later? Why not resetting the existing time? And then, I remembered. Fumio Sasaki wrote in his book "Hello, Habits". He said, when peoples are busy, they wish. Later, when they have many time, they will do many things. But, when they have plenty of time they forget what they want. So, actually, our main obstacle is not time but "reason" 😁 If you want to start something good, DO IT NOW. Don't procrastinate. Yes...I will do it now. InshaAllah.

Meninggalkan Musim Panas di Mexico

Seminggu yang lalu, saya janjian mau ketemu sama seseorang. Tapi liat di luar rasanya males banget. Karena cuaca begitu panas, terik, dan berdebu. Sejak bulan februari, di sini panas banget. Sampai air aja ngadat karena langka. Konon katanya, di sini emang kadang sulit air kalau pas musim kemarau. Meski tidak tiap tahun terjadi. Dan meskipun di sekolah diadakan perayaan musim semi, bunga juga tumbuh mekar di mana-mana, tapi matahari juga makin tambah terik. Di rumah dulu harus pake jaket berlapis, sekarang tiap hari pake daster compang camping, itu juga masih gerah. Minum es juga hampir tiap hari. Kurang nendang kalau nggak minum dingin. Waktu puasa kemarin apalagi, puanas pol. Tapi kata temen, bulan Juni ini udah mulai meninggalkan musim panas. Jadi kemungkinan besar juga hujan juga mulai turun. Beberapa hari ini emang mendung banget. Kadang gerimis dikit, kadang mendungnya cuma lewat doang. Paling-paling anginnya yang kenceng banget. Dua hari yang lalu kalau nggak salah, anginnya ken

Jurnal bunda : Jangan Ngiri, Nganan Aja

Guru menulis saya pernah bilang, kalau setiap orang itu punya kelebihan masing-masing, punya potensi, punya keahlian. Allah menciptakan manusia dengan kelebihannya. Di Al Qur'an dijelaskan, tapi aku lupa surat berapa 😁 Makanya kita harus mampu mengenali potensi yang kita miliki itu, dan jadikan keahlian itu sebagai sarana untuk meraih pahala Allah. Lakukan semuanya untuk Allah, jangan lakukan untuk uang atau hanya sekedar untuk pengakuan dari manusia. Yang pinter masak, cari pahala lewat masak.  Sesekali bagi resep masakan, ditiru sama orang untuk membahagiakan orang yang disayangi. Jadi pahala. Yang pinter nulis, cari pahala lewat nulis, dsb. Jika kita sudah paham potensi kita di mana, maka kita nggak mudah ngiri sama orang lain. Ngapain harus ngiri, wong tiap orang punya kelebihan termasuk diri sendiri. Saya nggak ngiri sama ibu-ibu pinter masak atau pinter bikin kue, karena saya sadar potensiku tidak di situ. Lima belas tahun menikah, belum pernah berhasil bikin kue yang nggak