Langsung ke konten utama

Puncak Picacho Aguascalientes

Aguascalientes dari atas picacho

Hari ini, aku buka-buka lagi foto lama. Trus nemu beberapa foto lama saat kami naik ke puncak Picachu, Aguascalientes. Seingatku, itu perjalanan hiking pertama kali di sini. 

Sebelumnya, kami nggak berani. Karena kalau dilihat dari jauh, rasanya jauh banget. Dan tentu saja udaranya begitu panas dan kering. Tapi karena penasaran akhirnya kami mencoba pergi ke sana.

Kami pergi ke sana tepat di tanggal 1 Januari 2022. Berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang. Berangkat udah mulai panas banget. Dekat sih, dari rumah. Tapi tetap aja, kalau siang panasnya nyengat banget. 

Sampai di sana, suasananya sepi banget. Orang-orang udah pada turun. Banyak juga yang udah mulai nongkrong di warung-warung di bawah. Saat itu, kami deg-degan banget karena baru pertama kali naik gunung. Kanan kiri rumput-rumput kering, yang konon katanya banyak ular deriknya. 

Tapi waktu itu kami belum tahu, jadi kami ikut salah satu orang jalan melewati rumput-rumput itu alias jalan pintas. Pas di tengah jalan, kami baru sadar kalau ternyata itu bukan jalan utama. Karena hampir sepanjang jalan isinya rumput kering semua.

Tapi, melewati jalan rumput itu jaraknya lebih dekat mencapai puncak ketimbang jalan utamanya. Jalan utamanya harus muter panjang. Sedangkan jalan pintasnya cukup lurus aja. Dan tentu saja lebih dekat meskipun lumayan nanjak dikit.

Pas pertengahan jalan, kami bertemu banyak rombongan yang baru turun juga. Bahkan ada juga yang baru berangkat. Wah, tambah rame. Dan meskipun saat itu mataharinya  cukup terik, tapi ternyata hawanya sangat dingin. Jadi nggak keringetan, berasa biasa aja.


Jalan pintas yang penuh rumput kering

Di jalan-jalan, kami ketemu rombongan bawa anak kecil, bawa anjing yang digendong-gendong karena kecapekan, ada anak kecil yang bersungut-sungut karena nggak digendong orang tuanya. 


Pos pemberangkatan

Sedikit lagi menuju puncak


Nah, ini tanjakan sebelum puncak. Jalannya susah banget, anginnya juga kenceng. Karena di sini Shabira agak kesusahan buat naik, jadi kami memutuskan untuk turun. Padahal, banyak anak-anak kecil juga yang sudah sampai puncaknya.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Sukabumi #Museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan

Kemarin, saat kami berkunjung ke Sukabumi mengikuti kaki melnagkah dan nggak tau mau melangkah ke mana lagi, akhirnya ada informasi katanya di Parung kuda ada sebuah museum. Museumnya bernama museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan. Dari luar, kami sama sekali nggak mengira kalau di dalam sebuah area yang ada patung gedenya itu ada museum tersembunyi. Saat kami mau masuk pun, bingung mau masuk lewat mana. Ada beberapa anak berseragam sekolah yang mlipir mlipir di dekat pagar. Ketika kami dekati, ternyata itu bukan  jalan masuk utama. Hanya jalan kecil buat lewat satu oarang yang suempit banget. Setelah muterin wilayah berpagar itu, kami akhirnya bertemu dengan seorang bapak dan ditunjukinlah ke mana kami harus masuk. Mendekati pintu gerbang utama, banyak anak sekolah yang lagi nongkrong. Eh, ngomong-ngomong pintu gerbang...pintu gerbang masuknya ternyata udah nggak layak banget. Seperti mau roboh dan susah dibuka #ngenes Saat kami masuk nggak ada satupun yang menyambut ...

Menghitung

Beberapa hari ini jadwal magrib di Mexico berubah. Yang tadinya jam tujuh lebih, hampir setengah delapan, sekarang jadi jam tujuh kurang. Perubahan waktu yang lumayan itu adalah sesuatu yang sesuatu banget. Sudah mulai beradaptasi dengan jadwal sebelumnya, eh, jadwalnya berubah lagi. Beberapa hari ini, tiap adzan magrib datang aku masih dalam kondisi di tengah goreng ikan, masak sambel, rebus sayur. Trus sering mengutuk diri sendiri. Seharian udah pontang panting nggak istirahat, giliran magrib datang belum selesai juga. Akhirnya mood-ku jadi buruk, trus senggol bacok. Kesenggol dikit pengen ngebacok orang. Hahaha Beberapa hari ini, aku emang sengaja ngurangin nyimak kajian buat beres-beres rumah. Ku pikir, setelah rumahnnya bersih, besok besok aku jadi lebih ringan buat beresinnya. Ternyata dugaanku salah. Seharian beresin rumah, besoknya tetep aja rumah berantakan. Apalagi cucian piring yang berasa beranak pinak nggak pernah ada habisnya. Magrib -magrib masih masak nggak selesai juga...

Tips Agar Kursus Online Bisa Efektif Ala Bunda Sha

Foto: www.pexel.com Akhir-akhirini, di media sosial banyak sekali kursus online. Kursus memasak, kursus menulis, kursus buat ini itu. Banyak sekali. Kursus-kursus itu juga dibanderol dengan harga yang cukup menggiurkan. Terjangkau banget untuk emak-emak seperti saya yang males keluar ikut kursus di luaran sana. Salah satu hal yang paling saya sukai ikut kursus online itu, nggak harus pergi-pergi, nggak harus macet-macetan, nggak harus ngatur gimana waktunya antara anak dan keluarga. Cukup duduk di rumah saja dapet ilmunya. Meskipun begitu, saya tetep harus memperhitungkan banyak hal dong ya, biar kursusnya tetep jadi ilmu yang bermanfaat nggak asal nyomot kursus. Dua bulanan ini, saya lagi ngebut ikut kursus. Selain karena butuh, juga karena harganya yang lagi murah meriah. Nah, sebelum memutuskan ikut kursus, biasanya saya mempertimbangkan dulu hal-hal di bawah ini: Kursus online yang sesuai passion Namanya juga emak-emak haus ilmu, kadang denger ada obralan kursus ya...