Langsung ke konten utama

Selalu Ada Yang Bisa Dirayakan


Hari ini kakak ikut tes kenaikan Nurul Bayan dari jilid 3 menuju jilid 4.
Malam sebelum tidur, kakak sudah belajar mengulang semua bacaan di bukunya dengan penuh semangat. Dengan sangat antusias dan penuh percaya diri, dia bilang kalau dia harus lulus dan bisa naik ke tingkat 4. Besok dia harus L ( lancar ).

Maka keesokan paginya, seperti hari biasa, jam setengah tujuh sudah mandi dan sudah siap mau berangkat saking semangatnya. Padahal tes nya baru dimulai jam 8.
Langsung saya antar dia ke sekolahan, dan berhubung adeknya belum bangun, saya tinggal dulu dia pulang baru nanti saya jemput lagi. Saya minta dia untuk ambil antrian terlebih dahulu, mengingat biasanya antriannya sampai bejibun.

Jam setengah sepuluh....................

Saya baru selesai nyuapin adeknya dan siap siap mau jemput kakak. Ternyata dia sudah nongol di depan pintu gerbang rumah. Dari kejauhan, saya lihat matanya agak memerah dan berusaha menundukkan wajah. Mungkin karena dia ngantuk bangunnya kepagian, atau bisa jadi ada masalah di sekolahan.

hal yang kali pertama saya tanyakan adalah,

" lho....pulang sama siapa, kak  ?"

Sambil lepas sepatu dia bilang lirih,

" L min, bun....."

Sayup sayup jawabannya terdengar. Tapi saya ulang pertanyaan saya sebelumnya.

" pulang sama siapa ?"

" sama mama bee..."

Baru dia jawabnya tepat.

Saya nggak nanya apakah dia lulus apa nggak ( karna saya sudah tau jawabannya )

Sambil naruh tas nya di kursi dia bilang lagi,

" Aku L min bun...nggak jadi naik ke jilid 4 " matanya mulai berkaca kaca. Entah takut dimarahi, atau karena kecewa berat. Saya tau betul dia ingin sekali naik ke jilid 4 agar bisa barengan sama temen deketnya. Tapi apa daya, hari ini dia dinyatakan " belum lancar " untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.
Dia ingin menangis. Tapi langsung saya bilang padanya,

" Nggak pa pa....besok kan masih bisa ikut tes lagi "

Dia menunduk. Matanya mengerjap ngerjap agar air matanya tidak tumpah.

" Ya udah, nggak apa apa....." ucapnya lirih

Sebelumnya, saya paksa dia untuk menjadi sempurna. Nilai bagus seratus semua, gampang mudeng kalau ditanya, memperhatikan kalau di jelaskan. Intinya, jadi anak yang berlebih dibanding teman temannya.

Tapi hari ini, saya tidak mau marah. Tidak mau kecewa, apalagi mengeluh dengan pencapainnya yang tidak seperti harapan. Saya berpikir, bahwa dia sudah menjadi sempurna di mata saya. Kadang, gagal itu bukankah hal biasa ?
Saya saja sering kali gagal, kenapa anak kecil nggak boleh gagal ?

Sebelumnya saya sudah bilang ke Shasha, kalau nanti lulus akan ada hadiah untuknya. Sekedar perayaan kecil kecilan untuk pencapaiannya hari ini, dengan membawanya ke toko dan mebebaskan dia beli dua macam makanan kesukaannya.

Sepulang dia dari tes itu, dia sudah sadar diri untuk tidak menagih hadiahnya karena memang hasil yang dicapai tidak seperti yang diharapkan. Mungkin karena itu juga wajahnya terlihat sedih.

Tapi bunda memutuskan, meski hari ini Shasha gagal, hadiah tetap diberikan. Sebagai upah belajar sungguh sungguh tadi malam. 
Tapi cukup sebatang es krim coklat saja.

Semoga Shasha bisa memetik pelajaran hari ini. Bahwa gagal itu bukan berarti tidak ada sama sekali harapan lagi. Bahwa gagal adalah pengalaman berharga. Gagal adalah bentuk kita belajar dengan cara lain. 

Meskipun gagal tapi selalu ada yang bisa dirayakan.

Kegagalan itu keberhasilan yang tertunda.....

Sekarang gagal besok harus berusaha lebih keras lagi untuk berhasil.  

Setuju kan, kak ? Semangat ya, semoga besok nggak ngulang lagi :)
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Sukabumi #Museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan

Kemarin, saat kami berkunjung ke Sukabumi mengikuti kaki melnagkah dan nggak tau mau melangkah ke mana lagi, akhirnya ada informasi katanya di Parung kuda ada sebuah museum. Museumnya bernama museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan. Dari luar, kami sama sekali nggak mengira kalau di dalam sebuah area yang ada patung gedenya itu ada museum tersembunyi. Saat kami mau masuk pun, bingung mau masuk lewat mana. Ada beberapa anak berseragam sekolah yang mlipir mlipir di dekat pagar. Ketika kami dekati, ternyata itu bukan  jalan masuk utama. Hanya jalan kecil buat lewat satu oarang yang suempit banget. Setelah muterin wilayah berpagar itu, kami akhirnya bertemu dengan seorang bapak dan ditunjukinlah ke mana kami harus masuk. Mendekati pintu gerbang utama, banyak anak sekolah yang lagi nongkrong. Eh, ngomong-ngomong pintu gerbang...pintu gerbang masuknya ternyata udah nggak layak banget. Seperti mau roboh dan susah dibuka #ngenes Saat kami masuk nggak ada satupun yang menyambut ...

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Waktu pertama kali dengar nama kampung turis, bayangan yang terlintas di benak adalah sebuah kampung yang banyak turisnya. Atau...sebuah tempat yang isinya menjual aneka jajanan berbau asing. Kayak di kampung cina, yang isinya macam-macam barang yang berbau kecinaan. Tapi ternyata saya salah. Kampung turis ternyata sebuah resto(tempat makan), tempat ngumpul bareng, tempat renang, tempat main anak, sekaligus tempat nginep. Bahasa gaulnya, Resort and Waterpark. Kampung Turis berlokasi di Kp. Parakan, desa Mekar Buana, kecamatan Tegal Waru-Loji, kab Karawang, Jawa barat. Jadi ceritanya, minggu pagi itu rencananya kami sekeluarga mau ke curug Cigentis. Di daerah Loji juga. Tapi berhubung pagi itu, saat mau berangkat mobil ngambek jadilah kami nunggu mobil pulang dari bengkel. Pulang dari bengkel sudah jam 11 siang. Kalau nggak jadi berangkat rasanya galau banget, kalau berangkat sepertinya tidak memungkinkan karena perjalanan dari rumah ke Loji saja sudah 2 jam. Kalau mau nekat ke curu...

Menghitung

Beberapa hari ini jadwal magrib di Mexico berubah. Yang tadinya jam tujuh lebih, hampir setengah delapan, sekarang jadi jam tujuh kurang. Perubahan waktu yang lumayan itu adalah sesuatu yang sesuatu banget. Sudah mulai beradaptasi dengan jadwal sebelumnya, eh, jadwalnya berubah lagi. Beberapa hari ini, tiap adzan magrib datang aku masih dalam kondisi di tengah goreng ikan, masak sambel, rebus sayur. Trus sering mengutuk diri sendiri. Seharian udah pontang panting nggak istirahat, giliran magrib datang belum selesai juga. Akhirnya mood-ku jadi buruk, trus senggol bacok. Kesenggol dikit pengen ngebacok orang. Hahaha Beberapa hari ini, aku emang sengaja ngurangin nyimak kajian buat beres-beres rumah. Ku pikir, setelah rumahnnya bersih, besok besok aku jadi lebih ringan buat beresinnya. Ternyata dugaanku salah. Seharian beresin rumah, besoknya tetep aja rumah berantakan. Apalagi cucian piring yang berasa beranak pinak nggak pernah ada habisnya. Magrib -magrib masih masak nggak selesai juga...