Langsung ke konten utama

Serba Salah



Saya menuliskan cerita ini, diawali ketika bertamu ke rumah seseorang. Dan seseorang itu bilang, bahwa dia nggak punya apa apa selain segelas air putih untuk disuguhkan.

Padahal, maksud kedatangan saya ke situ sebenernya tidak mau minta makanan atau minuman.
Melainkan ingin bertemu dengan pemilik rumah.

Buat saya, kebahagiaan ketika bertamu adalah saat bertemu dengan orang yang dicari.


gambar dari : antoncharlianetika.blogspot.com


Saya adalah orang yang super sibuk ( sok sibuk ) sebenernya. Jadi, saya paling jengkel kalau bertamu ke rumah seseorang, dan ternyata orang yang saya cari itu sedang nggak ada dirumah. Rugi....

Kembali ke masalah suguhan tadi....

Suguhan adalah makanan atau minuman yang dihidangkan untuk tamu yang datang.
Iya....kalau makanan dan minuman yang disuguhkan untuk dedemit itu namanya sesajen.

Ketika tamu datang, trus nggak ada makanan atau minuman yang layak disuguhkan selain air putih, orang yang saya datengin biasanya begini.....

" Maaf ya, cuma disuguh pakai anggur merah "

Waktu awal jadi emak emak, saya bingung, perasaan tadi cuma dikasih air putih...mana anggur merahnya...........???

Ada lagi pemilik rumah yang kejam dan nggak mau rugi, bilang ke tamunya begini,

" Maaf ya, cuma dianggurin aja....."

Lha........emangnya saya bertamu itu mau cari kesibukan ??? Saya bertamu kan niatnya emang mau ngobrol sama pemilik rumah.

Kalau tamu dibikin sibuk, saya jadi males mau bertamu.

Kecuali, emang si pemilik rumah lagi sibuk dan kita berniat diri untuk membantunya.

Masalah suguhan ini, juga menjadi cerita menarik saya dan emak....

Peraturan di rumah emak, kalau ada tamu yang dateng bawa oleh oleh, oleh olehnya itu kita terima dengan senang hati apapun isinya. Dan ketika tamu sedang ngobrol, oleh oleh yang dibawa tamu tadi harus disuguhkan juga. Alasannya, biar si tamu nggak menganggap kita maruk mau makan tuh makanan sendiri. Sekaligus biar tamu tau kalau kita memakan apa yang sudah dikasihnya. Dimakan bareng bareng gitulah...sekaligus bisa sebagai bahan obrolan. Misalnya begini...

" Eh, blackforrest nya enak lho...... bikin sendiri ?"

" gimana cara bikinnya...?"

" mau dong...resepnya...."

" Ntar kapan kapan saya ke rumah ya.... bikin kue ini "

" Tenang, bahannya saya bawa sendiri dari rumah kok "

" Ntar kamu yang bikin, saya yang bawa pulang kuenya " 


Nah, kalau di rumah mertua  justru kebalikannya.
Kalau ada tamu yang bawa oleh oleh, oleh olehnya nggak pernah dibuka sampai tamu pulang. Saru katanya....tau kan saru itu apa? saru itu nggak sopan.
Apalagi kalau oleh oleh tadi di suguhin. Kalau nggak kepepet banget nggak ada makanan nggak boleh begitu. Alasannya, malu sama tamu....dikira kita maruk pengen buru buru makan oleh oleh. Lagian kalau ternyata oleh olehnya itu nggak enak,  tamu juga nggak bakalan malu..

Nah, trus gimana dong kalau kaya gitu.....? kata emakku, kalau di rumah emak ikut aturan emak, kalau di rumah mertua ikut aturan mertua. Trus kalau di Bekasi, harus ikut aturan siapa ????

Aturan yang emak saya buat ada beberapa keuntungan, untungnya kita nggak mungkin bisa diracuni sama orang. lha wong, oleh oleh yang dibawa dimakan bareng bareng.

Tapi, tetap....kembali lagi, bahwa kebahagiaan bertamu adalah ketika berhasil bertemu dengan orang yang dicari.

Mau disuguh dengan anggur merah, air putih, kopi susu atau apapun asal nggak usah bilang nyesel sudah dianggurin. Kesannya kok, kita kayak mau nyari untung dari tamu.

Dan kalau memang cuma disuguh air putih, nggak usah bilang bilang disuguh anggur merah. Kesannya kita tuh belagu banget...air putih aja disebut anggur merah.

Terlepas dari  bener nggak apa yang saya tulis, tergantung dari kita bagaimana menilainya. silahkan dinilai sendiri bagaimana kira kira bertamu dan menjamu tamu.

Mau bawa oleh oleh atau nggak, tamu harus tetep kita sambut jangan malah disambit.... Kecuali, tamu itu seorang wanita pengganggu suamimu. Kalau iya, silahkan panggil ibu ibu tetangga buat nimpukin dia pakai high heels.

Kebahagiaan yang paling utama dari bertamu adalah bertemu dengan orang yang dicari. Nggak peduli bawa oleh oleh atau nggak, yang penting ketemuannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Sukabumi #Museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan

Kemarin, saat kami berkunjung ke Sukabumi mengikuti kaki melnagkah dan nggak tau mau melangkah ke mana lagi, akhirnya ada informasi katanya di Parung kuda ada sebuah museum. Museumnya bernama museum Palagan Perjuangan Bojongkokosan. Dari luar, kami sama sekali nggak mengira kalau di dalam sebuah area yang ada patung gedenya itu ada museum tersembunyi. Saat kami mau masuk pun, bingung mau masuk lewat mana. Ada beberapa anak berseragam sekolah yang mlipir mlipir di dekat pagar. Ketika kami dekati, ternyata itu bukan  jalan masuk utama. Hanya jalan kecil buat lewat satu oarang yang suempit banget. Setelah muterin wilayah berpagar itu, kami akhirnya bertemu dengan seorang bapak dan ditunjukinlah ke mana kami harus masuk. Mendekati pintu gerbang utama, banyak anak sekolah yang lagi nongkrong. Eh, ngomong-ngomong pintu gerbang...pintu gerbang masuknya ternyata udah nggak layak banget. Seperti mau roboh dan susah dibuka #ngenes Saat kami masuk nggak ada satupun yang menyambut ...

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Waktu pertama kali dengar nama kampung turis, bayangan yang terlintas di benak adalah sebuah kampung yang banyak turisnya. Atau...sebuah tempat yang isinya menjual aneka jajanan berbau asing. Kayak di kampung cina, yang isinya macam-macam barang yang berbau kecinaan. Tapi ternyata saya salah. Kampung turis ternyata sebuah resto(tempat makan), tempat ngumpul bareng, tempat renang, tempat main anak, sekaligus tempat nginep. Bahasa gaulnya, Resort and Waterpark. Kampung Turis berlokasi di Kp. Parakan, desa Mekar Buana, kecamatan Tegal Waru-Loji, kab Karawang, Jawa barat. Jadi ceritanya, minggu pagi itu rencananya kami sekeluarga mau ke curug Cigentis. Di daerah Loji juga. Tapi berhubung pagi itu, saat mau berangkat mobil ngambek jadilah kami nunggu mobil pulang dari bengkel. Pulang dari bengkel sudah jam 11 siang. Kalau nggak jadi berangkat rasanya galau banget, kalau berangkat sepertinya tidak memungkinkan karena perjalanan dari rumah ke Loji saja sudah 2 jam. Kalau mau nekat ke curu...

Menghitung

Beberapa hari ini jadwal magrib di Mexico berubah. Yang tadinya jam tujuh lebih, hampir setengah delapan, sekarang jadi jam tujuh kurang. Perubahan waktu yang lumayan itu adalah sesuatu yang sesuatu banget. Sudah mulai beradaptasi dengan jadwal sebelumnya, eh, jadwalnya berubah lagi. Beberapa hari ini, tiap adzan magrib datang aku masih dalam kondisi di tengah goreng ikan, masak sambel, rebus sayur. Trus sering mengutuk diri sendiri. Seharian udah pontang panting nggak istirahat, giliran magrib datang belum selesai juga. Akhirnya mood-ku jadi buruk, trus senggol bacok. Kesenggol dikit pengen ngebacok orang. Hahaha Beberapa hari ini, aku emang sengaja ngurangin nyimak kajian buat beres-beres rumah. Ku pikir, setelah rumahnnya bersih, besok besok aku jadi lebih ringan buat beresinnya. Ternyata dugaanku salah. Seharian beresin rumah, besoknya tetep aja rumah berantakan. Apalagi cucian piring yang berasa beranak pinak nggak pernah ada habisnya. Magrib -magrib masih masak nggak selesai juga...